Watupecah

Dusun Watupecah

       

Watupecah merupakan salah satu nama dusun di Desa Pondokrejo. Asal nama dusun ini berasal dari ikon yang berada di dusun ini yaitu terdapatnya suatu batu yang terbelah di dusun ini. Batu ini diyakini merupakan batu dari hasil letusan Gunung Merapi pada tahun 1006 M yang terbawa sampai ke dusun ini. Batu itu berukuran cukup besar dan menjadi salah satu objek wisata di dusun ini. Alasan batu ini menjadi salah satu tempat wisata adalah dikarenakan nilai historis dan beragamnya cerita mengenai sejarah batu ini yang cukup menarik untuk diketahui.

Berdasarkan cerita turun-temurun yang beredar di tengah-tengah masyarakat, batu ini pecah dikarenakan adanya pertarungan dua orang sakti di tempat itu pada masa lampau.  Salah satu dari orang sakti tersebut naik ke atas batu tersebut dan menggunakan ilmu yang ia miliki hingga menyebabkan batu tersebut retak. Semenjak itu, batu tersebut menjadi batu yang pecah dan orang sakti tersebut mengatakan apabila suatu saat daerah ini menjadi sejahtera, maka daerah ini harus diberi nama Watupecah.

Dusun Watupecah sendiri dipimpin oleh seorang Kepala Dukuh pertama kali oleh Bapak Ahmad Taslim sejak tahun 1940-1990. Dusun Watupecah sendiri dapat dikatakan memiliki penduduk yang heterogen dimana pada dusun ini terdapat masyarakat dari 3 agama yang berbeda yaitu Islam, Katolik, dan Kristen. Perayaan hari-hari besar tiap agama di dusun ini juga berjalan selalu dengan baik, lancar dan harmonis. Masyarakat Watupecah sendiri saat ini mayoritas dihuni oleh generasi muda dibandingkan generasi tua nya dengan perbandingan sekitar 60% : 40% . Total jumlah penduduk Watupecah saat ini sekitar 860 orang dengan jumlah keluarga sebanyak 306 KK. Dari 860 orang tersebut, jumlah penduduk pria dibandingkan penduduk wanita adalah kurang lebih 445 : 415 orang. Beberapa penduduknya juga ada yang merantau di Bogor, Papua, dan daerah lain di Indonesia ini. Mata pencaharian yang berada di dusun ini mayoritas berprofesi sebagai petani sekitar 180 orang dan yang lainnya bekerja sebagai pedagang, PNS, TNI, pemberi jasa, dan sebagainya.

Dusun Watupecah sendiri memiliki struktur kepengurusan pemerintahannya sendiri. Watupecah memiliki 3 RW yaitu RW 18, RW 19 dan RW 20 serta memiliki 7 RT dari RT 1 sampai RT 7. Pada RW sendiri terdapat ketua-ketuanya yaitu pada RW 18 adalah Bapak Sarji, pada RW 19 adalah Bapak Sujarwadi dan pada RW 20 adalah Bapak Sutarjo. Untuk RT sendiri yaitu pada RT 1 adalah Bapak Mardiyono, RT 2 adalah Bapak Widarto, RT 3 adalah Bapak Ngadimen Heriyanto, RT 4 adalah Bapak Suharyanto, RT 5 adalah Bapak Trimantoro, RT 6 adalah Bapak Supono, dan RT 7 adalah Bapak Aluwung yang merangkap sebagai Takmir Masjid Blesen. Untuk sub LPMD sendiri diketuai oleh Bapak Ngadiman, S.Pd yang merangkap sebagai Takmir Masjid Jenengan.

Selain batu yang pecah, Watupecah juga memiliki objek wisata lainnya yaitu makam Syekh Hasan Roudhaoh yang merupakan seorang penasehat Spiritual pada masanya. Makam ini berbentuk kompleks pemakaman beserta dengan keluarga beliau yang dianggap kramat bagi warga sekitar.